Alat Rekam Gate

Beberapa bulan terakhir ini ada 2 perjalanan dinas keluar kota, November lalu ke Adelaide Australia dan Maret ini ke Surabaya. Tahu nggak nih, … dalam kedua perjalanan itu selalu ada ’gate and gate’ yang menegangkan dan juga lucu …  :)
 
Waktu di Adelaide ada cerita EI ketinggalan HP di pasar  (lihat ceritanya di HP Gate), nah di Surabaya ini ada juga Alat rekam yang ketinggalan di Taksi, yang bikin mbak Rizka pucat pasi. (padahal 100% bukan kesalahan RN lho).

Malam menjelang acara Perspektif Baru Live WT, RN dan MW masukin Seminar Kit, sampe malem. Trus ngepak logistik yang mo dibawa ke kampus. Seminar kit 250 pax, buku Hell yeah, No regret, A book about nothing, tak ketinggalan buku Melebarkan sayap dan kartu nama WW semuanya dah siap dalam kardus plus 2 standing banner dan tas orange berisi alat rekam PB (2 mini disk, mixer dan 2 mic).

Jam 07.00 Pagi hari kami harus segera ke kampus, karena masih ada beberapa hal yang belum clear seperti panggung dan sound system.

Semua sudah siap, RN berinisiatif memanggil bellboy hotel untuk membantu menurunkan semua barang yang akan dibawa ke Unair. Terdengar suara RN memberitahukan agar hati-hati dengan tas orange.
 
Yap … semua siap,  barang-barang bawaan + WT, RN dan MW. Dengan bantuan orang hotel kami memanggil taksi blue bird  yang banyak ngetem di hotel.

Satu persatu barang-masuk bagasi taksi. Tas orange disimpan di pojok bagasi, dilanjutkan dengan 3 dus seminar kit dan 1 dus logistik lainnya. Banner nggak bisa masuk karena kepanjangan, terpaksa disimpan diatas pangkuan WT dan RN yang duduk di bangku belakang.

Sesampai di Unair ternyata masih sepi, mbak Ningsih dan teman-teman belum sampai. MW segera meminta bantuan seorang mas2 gitu deh yang ada disitu untuk menurunkan dan membawa ke tempat acara  di lantai 3.

Oke deh … semua sudah ada di lantai 3 pikir kami bertiga. Kami sibuk membereskan meja regsitrasi, chek sound system dan juga cek kelengkapan panggung. Waktunya cek musik Perspektif. Ku tanya RN, ’Mbak CD musik Perspektif mana yah’? bentar mbak jawab RN sambil menuju ruang belakang tempat menyimpan barang-barang.

Tapi Up… RN keluar lagi sambil tanya balik. ’Mbak Wid, MW lihat tas orange nggak?’ mulailah kami kaget. Wah jangan-jangan ketinggalan nih.

Rizka mulai panik. Aku juga panik tentunya, tapi aku berusaha untuk kelihatan tenang (hehehe .. gaya yah :)). Aku tanya RN, ’Tadi dimasukin ke taksi atau ketinggalan di hotel? Tolong diinget-inget deh’ . Dengan wajah yang pucat pasi RN bilang: ’Yakin dimasukin ke taksi kok’.

Ok deh,  MW dengan cepat menelpon pihak hotel dan minta bicara dengan counter blue bird di hotel atau minta no tlp kantor pusat taksi blue bird. Oooh, ternyata kantor mulai aktif jam 08.00 sementara sekarang baru jam 07.00.

Kami mulai nggak konsentrasi. RN sudah gelisah. Akhirnya aku putuskan untuk segera menyelesaikan keperluan acara, jam 08.00 tepat baru kami hubungi kembali pihak Blue Bird.

Titik terang mulai datang, ketika  rombongan kedua datang (EI, WW, JP) juga menggunakan taksi Blue Bird.

Rombongan EI sampai aku dan MW segera menyambut di lt dasar. Aku membawa rombongan masuk, sementara MW menghubungi supir taksi untuk minta tolong mencari taksi yang kami naiki sebelumnya.

Thanks God ……  supir taksi menumukan temannya yang mengantarkan kami. Dengan menggunakan radio panggil taksi dan dibarengi dengan menelpon ke kantor pusat. Barang itu kembali dalam waktu kurang lebih 1 jam.

Uuuuh …. Terima kasih MW, RN kerjasamanya. RN dah nggak panik lagi kan? Wt yang salah kok, nggak ngecek dengan teliti jumlah barang yang di bawa. Terima kasih juga untuk Blue Bird taksi dan dua sopir taksi yang baik yang tidak sempat kami tanya namanya …. :)

Sekali lagi terima kasih MW, RN. Pengalaman yang nggak terlupakan deh pokoknya. Apalagi saat mati lampu di Delta Plaza. Sayang wt nggak ikut photo2 di patung buaya …. :)

Perspektif Baru Live di Surabaya

Persiapan Kru PB
Tanggal pelaksanaan dah ditetapkan, partner kerja dah dipilih juga, tim yang berangkat dah diumumkan juga by ei. Ok deh Surabaya ready to go …

Surabaya menjadi kota pertama yang kami kunjungi. Berbagai kegiatan selama di kota pahlawan ini sudah direncanakan dengan detail dalam itinerary. Di surabaya kita dibantu juga oleh Deasy yang jemput kita dan pilih tempat2 makan murah dan enak untuk kita.

Jam 11.30 kami sampai di Plaza Hotel Surabaya, chek in dan … aduh … ternyata kami mendapat layanan istimewa dari pihak hotel. Dengan sopan manajer yang bertugas saat itu mengabarkan bahwa, kamar untuk WW di upgrade menjadi ’President sweet room’   wow very nice ….  kebayang dong kamar yang luas and asyik tentunya.

Dasar anak-anak norak (termasuk gw juga sih hhihihihi..) …. kita semua lihat kamar-nya WW sambil makan buah and kue coklat yang disediakan. (bener2 yah   … :) )

Kamar kru (WT, RN, MW dan Atun) nggak kalah asyiknya (walaupun nggak ada buah and coklat) kita dapat kamar ’family sweet room’  dengan wallpaper Mickey Mouse,  Pluto and the gank.
 
Selesai lihat kamar, bersiap untuk lunch di rumah makan bu Kris, dengan makanan khasnya ayam penyet.

After Lunch WW dah ditunggu Mas Seger dari Duta Masyarakat untuk wawancara profil. Terpaksa pasukan dibagi dua EI dan Atun dampingin WW. Sementara WT, MW dan RN melihat lokasi acara. Jam 16.00 kita semua janjian ketemu lagi di radio Delta.
 
Jam 16.00 WW akan on air di radio Delta FM Surabaya. Ada talk show spesial menyambut WW  ’Afternoon with Wimar’ yang dipandu oleh Mbak Dyah dengan produsernya Elok Rahmina.

Gosip nih ….  Menurut Mas Widi (station Managernya Delta FM  Surabaya) Mbak Dyah sampe nggak bisa tidur tuh, karena mau wawancara WW. Tapi akhirnya sukses banget.

Pulang dari Delta FM yang kebetulan gedungnya di depan hotel tempat kita nginep kita bersiap untuk makan malam di Primarasa.

Malamnya kita kerja bakti masukin siapin seminar kit.

PB Live di UNAIR
Jum’at, 16 Maret 2007, Aula Fisip Universitas Airlangga  yang terletak di Kampus B Jl. Dharmawangsa,   gedung C dipenuhi lebih dari 200 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya.

Wimar Witoelar mengawali diskusi dengan sebuah pertanyaan kepada para peserta:

“Apa tujuan Anda hadir dalam acara ini?”

Pertanyaan yang sengaja dilontarkan oleh Wimar Witoelar  ini  dimaksudkan untuk menangkap perspektif peserta mengenai topik Demokrasi dan Pluralisme. Jawaban antusias dan beragam disampaikan oleh para peserta. Ada yang sekedar ingin bertemu dengan Wimar Witoelar, ada yang ingin tahu tentang kondisi demokrasi saat ini, dan ada yang malah bertanya balik tentang perbedaan pluralisme dan multikulturalisme.

Jawaban dari para peserta ini menjadi catatan penting bagi para pembicara untuk dapat memberikan masukan mengenai Demokrasi, Pluralisme dan makna pentingnya untuk generasi muda itu sendiri.

Jaleswari Pramodhawardani, peneliti pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Daniel Sparringa, Analis Politik Universitas Airlangga, yang tampil menjadi pembicara pada acara itu memberikan pandangannya mengenai ‘Demokrasi dan Pluralisme’ dengan sangat baiknya sesuai porsinya masing-masing.

 ’Demokrasi Zombie’  Menjadi istilah yang dipakai dua pembicara ini dalam memaparkan demokrasi di Indonesia saat ini.  Wah untuk yang serius nih sih ikutin aja deh bahasan dan transkrip lengkap di www.perspektifbaru.com  atawa   di www.perspektif.net 

Acara ini terselenggara atas kerjasama Yayasan Perspektif Baru, Pusat Studi Transformasi Sosial Lembaga Penilitian (PsaTS) Universitas Airlangga, Koran Duta Masyarakat serta didukung oleh Konrad Adenauer Stiftung (KAS)

Wawancara PB
Tidak menyia-yiakan kesempatan di Surabaya, aku cari tahu nama-nama yang bisa diwawancara PB. Dalam pikirannku minimal dapat 3 tamu untuk stock (lumayan kan …. :) )

Setelah tanya kanan kiri, depan belakang. Akhirnya kita putuskan calon tamu itu adalah: Pak Daniel Sparingga, Pak Eddy Herry dan juga mas Muhaji. Semuanya di borong sama mbak Dani sebagai hostnya … (sori yah mbak, dah bikin mbak Dani mabok … :))

Wawanacara terakhir dengan Mbak Hesti Armiwulan yang ngobrol tentang HAM sama WW.

Thanks Teman-teman PsaTS: Pak Eddy, Mbak Ningsih, Mas Munuk, Mas Eko, Mbak Sari, Mbak Tanti pokoknya semua panitia deh.

Thanks juga radio Delta, Mbak Dyah, Elok Mas Widi dan tentunya thanks alot Deasy Dion.

Ditengah-tengah serunya persiapan acara ada cerita yg heboh, kenapa heboh karena bikin kalut, gugup dll …. ikutin yah kisah ’Alat Rekam Gate’

Aku dan Perspektif Baru

Pernah denger acara Perspektif di SCTV ? sebuah acara talk show one on one yang dipandu sama Wimar Witoelar (of course my bos dong ..:)). Acara itu ada di SCTV tahun 1995  gitu deh.

Acara itu ngga punya rating bagus, cuma banyak penggemarnya terutama dari kalangan yang berpikir dan kritis sama kondisi saat itu, karena acara itu menampilkan sisi pengetahuan dan informasi. Tapi sayang, perspektif  dibredel sama pemerintahan Soeharto lewat Menpen Mr. Peci alias Harmoko.

Nah setelah dibredel itu justru menjadi titik kesuksesan Perspektif dan seorang Wimar Witoelar. Masyarakat semakin mengenal sosok Wimar Witoelar. Perspektif menjadi suatu yang fenomenal (menurut Bang Akmal dari Tempo… hehehe baru denger kemarin).

Banyak surat masuk ke redaksi Perspektif, yang isinya memberikan dukungan terhadap Wimar dan acaranya. Karena dukungan dari penggemar perspektif, maka Mbak Hani Hasyim  (HA kita biasa sapa) produser dan penguasa Perspektif yang memiliki ide dan wawasan kreatif dan brillian menyalurkan dukungan itu menjadi program radio dan koran dengan nama ’Perspektif Baru’ .

Perspektif Baru sudah berjalan 10 tahun dengan jumlah tamu yang diwawancara leboh dari 500 nama dari mulai pengamat politik, ekonomi, pejabat bahkan tukang beca yang mencalonkan jadi Gubernur-pun sempat menjadi narasumber PB.

Berbagai topik sudah dibahas. Wimar Witoelar sebagai pemandu utama dan beberapa nama dengan karekter-nya masing-masing menjadi pendamping WW.
Ada Martin Manurung (MM), Ruddy Gobel (RG) keduanya sudah tidak aktif di PB. Yang masih aktif adalah Faisol Riza (FR) dan Mbak Dhani atau Jaleswari Pramodhawardani (JP).

Setelah para seniorku yang sukses menjalankan PB ini, sekarang giliran aku menjalankan PB ini.  Tentunya tugasku tidak seberat pendahulu-pendahuluku yang memang merintis program ini.  Tapi ini sebuah penghormatan dan amanah yang amat menyenangkan yang diberikan WW padaku (thank WW, E, CL juga

Beberapa tahun terakhir ini, PB mendapat dukungan dari Konrad Adenauer Stiftung (KAS) sebuah yayasan dari Jerman yang mendukung kampanye demokratisasi.

Tahun 2007 ini dengan PB mendapat dukungan KAS menyerenggarakan PB Live road show di 4 kota. Surabaya, Palembang, Banjarmasin dan Pontianak, bertajuk “Demokrasi dan Pluralisme Untuk Kaum Muda”.

Aku kebetulan menjadi pelaksana program 4 kota ini. Wah asyik juga nih jalan-jalan (hehehehe) Kota pertama yang dikunjungi adalah Surabaya aku pergi sama EI, MW, RN dan juga pembicara tamu Mbak Dani alias JP.

Wah banyak ceritanya di Surabaya. Yang pasti  akan aku ceritain acaranya dan juga bagaimana kecemasan mbak Rizka (RN) di Surabaya …. (simak terus yah ….!!)