Bahasa

Indonesia yang terdiri dari berbagai suku juga memilki berbagai macam bahasa. Entah ada berapa jenis bahasa yang ada di Nusantara ini. Dan rasanya bahasa daerah lebih kaya perbendaharaan katanya dari bahasa Indonesia sendiri. Contohnya dalam bahasaku saja (bahasa sunda) kata makan ada beberapa macam, ada ‘tuang’ (bahasa halus),  Neda (menangah), Dahar (kasar) dan Emam (biasanya untuk anak2).

Salah pengertian sering kali terjadi terutama suku Jawa & Sunda, karena sebetulnya sumber bahasanya hampir sama dari ‘Ha Na Ca Ra Ka’ jadi kadang banyak persamaan kata yang berbeda arti contohnya : ‘Atos’, dalam bahasa jawa berarti keras sedangkan dalam bahasa sunda berarti sudah. Lalu ada ‘gedang’ dalam bahasa sunda berarti pepaya, dalam bahasa jawa artinya pisang.

Atau sering juga ucapan selamat disangka nama orang, karena didaerahnya memang ucapan itu menjadi nama orang. Seperti yang terjadi pada teman bapakku.

Pernah suatu hari bapakku dan beberapa teman yang memang sunda banget pak Oman namanya, mengunjungi kota di Jawa tengah. Karena saat itu masih suasana lebaran otomatis setiap ketemu orang Jawa mereka mengucapkan ’sugeng riyadi’(selamat lebaran), karena nggak tahu, teman bapakku menjawab dengan namanya ’Oman Abdurahman’ begitu seterusnya setiap ketemu orang :

Jawa     : Sugeng Riyadi
Sunda  : Oman Abdurahman

Sampai akhirnya si Pak Oman menghampiri bapakku dan bilang, ’Pak disini mah banyak sekali yah nama ’Sugeng Riyadi’ teh. Bapakku sambil tertawa menjelaskan bahwa sugeng riyadi itu bukan nama orang akan tetapi ucapan selamat lebaran.

’Ya ampun bapak, saya pikir  sugeng riyadi teh nama orang, makanya saya juga heran kok banyak banget nama sugeng riyadi’ kata pak Oman …

Fyi nih,  kalau Sukabumi Sugeng Riyadi memang nama orang,  ya Pak Sugeng sebutannya ….  :) )

Ramadhan 2008

Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah memberikan kesempatan pada kami sekeluarga untuk dapat merasakan kenikmatan dan keindahan Ramadhan di tahun ini. Hari ini sudah memasuki hari ke-3 kami menjalankan puasa, fyi 2 hari lagi (5 Ramadhan) si sulung Haekal merayakan kelahirannya (menurut tanggalan Islam).

Tahun ini adalah tahun ke tiga Haekal mengikuti puasa magrib. Alhamdulillah sekarang ini dia benar-benar terbiasa, tidak pernah ada lagi keluhan lapar atau lemes atau apalah .. dia sangat enjoy banget. Bahkan saat adiknya rewel dia sudah bisa nasehati Balya … :)

Sementara Balya masih seperti tahun-tahun sebelumnya, belum bisa diajak berpuasa. Saat sahur dia selalu siap bangun, makan sahur, minum vitamin  (aaah pokokna mah heboh deh). Tapi selalu di jam 8.00 dia bilang pusing, yang ujungnya minta makan .. :)

Hari pertama Balya janji mau buku dhuhur, tapi karena permintaannya nggak dikabulkan (minta uang Rp. 2000), akhirnya dia bilang ’Bu, aku pusing banget nih’ jadilah dia bukan di Jam 08.00.

Hari kedua, dengan perjanjian dikasih uang jajan RP. 2000, dia janji untuk puasa sampai dhuhur, namun .. (dasar bocah) .. begitu dapat uang dia langsung lari ke Warung dan membeli beberapa biskuit. Jadi ketika aku tlp jam 09.00 dia langsung minta maaf ’Bu, maafin ya aku dah buka, tadi kelupaan’ …. Hehehe padahal dah pengen banget tuh makan biskuit …

Hari ini (hari ketiga)  menurut informan di rumah katanya, Balya marah-marah melulu, tanya jam terus. Namun akhirnya, alhamdulillah dia buka di jam 12.00. Dia tlp aku jam 13.00 dan bilang ’bu aku bukanya jam 12.00 lho’

Nah gitu dong sayangku …cantikku …. :)