Yang Muda, Yang Maju

Sudah lebih dari sebulan nggak menulis untuk my blog. Dan banyak juga  kejadian-kejadian disekitarku yang menarik untuk diceritakan. Sebutlah saat mendampingin my big bos WW ke sebuah acara di Universitas Paramadina.

Berikut laporan dari lapangan (hehehe … belajar jadi reporter nih …)

Yang Muda, Yang Maju

‘Mampukah Orang Muda Memimpin Jakarta?’ itulah tema yang diangkat dalam dialog publik yang diadakan oleh The Lead Institute Universitas Paramadina Jakarta.
Dialog yang diadakan di weekend itu cukup mendapatkan perhatian. Mungkin karena tema yang diusung Jakarta, yang notabene adalah kota ‘kita’. Mungkin,  orang rela
untuk mendengar nasibnya.

Dalam kacamata Wimar Witoelar yang hadir sebagai pembicara, pertanyaan yang muncul dalam tema tersebut langsung mendapat jawaban spontan, mampu. Sebab
menurutnya, beberapa negara dipimpin oleh seorang yangmuda. Baik muda usianya,
maupun muda jiwanya. 

Sebut saja, Tony Blair yang sudah naik tampuk kepemimpinan Inggris diusia muda. Atau Bill Clinton yang menjadi Gubernur Arkansas pada usia 32 tahun.

Tapi perlu diingat, bahwa Age is only number, dimana tidak ada jaminan absolut bahwa yang muda dan  paling kreatif. Terpenting, seorang pemimpin dimanapun dan
tingkat apapun, ditandaskan Wimar harus seorang GoodGuy.

Jelasnya, Good Guy menurut istilah yang sering dilontarkan Wimar adalah, seorang pemimpin yang dinilai baik, clean serta mempunyai kemampuan diatas
rata-rata. Point plus jika predikat tersebut ada dalam seorang yang muda. Berarti ada harapan untuk membangun Jakarta (khususnya) dengan ide-ide yang lebih fresh.

Sementara itu, Bimo Arya dari Lead Institute yang juga hadir sebagai pembicara, yakin, bahwa yang muda memang pantas untuk jadi leader di Jakarta. Tapi sebetulnya, diantara kandidat bakal calon gubernur yang akan datang, tidak ada yang muda dari segi usia. Setidaknya, tidak ada yang seperti Ali Sadikan yang duduk sebagai gubernut DKI pada usia 39 tahun, atau Baramuli menjadi gubernur Sulut, diusianya ke-29 tahun.

Tapi dari semua kandidat, Faisal Basri dan Rano Karnolah yang termuda dari yang ada sekarang. Sebut saja, 47 tahun dimana usia mereka memasuki ‘sangat dewasa’
menjadi yang paling muda diantara kandidat berusia 55 tahun.       

Ditempat yang sama, Faisal Basri, kandidat yang disebut sebagai kandidat termuda itu mengatakan, keberaniannya untuk ikut bursa calon gubernur DKI karena dia mempunyai gagasan yang pas untuk diterapkan di Jakarta dan cocok untuk masyarakat kota terpadat penduduknya ini. Jalan satu-satunya, ya harus menjadi orang nomor satu di tanah Jakarta.

Mengusung konsep ‘Jakarta Milik kita Bersama’, dia ingin membuat penghuni Jakarta bahagia dan tidak stress, seperti kabanyakan warga Jakarta sekarang.  

Hal lain yang juga membuatnya maju, karena dia juga ingin mematahkan stigma yang mengatakan politik itu perlu uang. Seorang politisi itu harus kaya. Berarti untuk menjadi pemimpin harus mapan terlebih dahulu.

Rano Karno yang juga ‘pesaing’ Faisal Basri dalam soal usia menegaskan dalam dialog tersebut bahwa kaum muda saat ini siap untuk memimpin Jakarta. Makanya, ia agak mengeryitkan dahi dengan judul dialog. Menurutnya, tema tersebut menyiratkan keraguan akan kredibilitas orang muda yang akan maju sebagai kandidat nomor satu Jakarta.  Padahal satu bukti kemampuan adalah mengajukan dengan diri.

Rano sendiri yang melejit lewat si Doel-nya sudah merumuskan Jakarta dalam sebuah konsep yang simple namun efektif, yaitu Jakarta yang Sehat, Inspiratif, Damai, Optimis, Empati dan toLeran ‘Jakarta si Doel’

Permainan Mata
 
Bimo mengungkapkan bahwa satu-satunya kendaraan yang harus dipakai oleh para balon gubernur adalah partai politik. Jadi peranan partai politik yang sangat
signifikan dalam menentukan kandidat seorang pemimpin.

Proses demokratisasi seringkali dinodai dengan adanya permainan mata antara para kandidat, partai politik dan pengusaha yang memiliki modal kuat. Sehingga hutang budi seorang kandidat kepada partai yang telah mencalonkannya dan penguasaha yang memodalinya sangat terbuka lebar.

Menurut Bimo, semua itu tidak bisa dihindari. Karenanya seorang politisi harus memiliki kecakapan dalam mengontrol dan memenej hubungan dengan partai politik dengan tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat luas.

Sementara Wimar mencontohkan bagaimana Gus Dur jatuh karena memilih untuk tidak ingin berkompromi dengan partai politik. Sementara masuknya Wimar dalam lingkaran Gus Dur bukan untuk menyelamatkan jabatan presidennya akan tetapi untuk menyelematkan ide pluralisme, desentralisasi militer.  Terlepas dari kesuksesan Gus Dur menjadi presidenmenurut Wimar, Partai politik adalah penentu apakah good guy atau bad guy yang akan maju sebagai calon.

Wimar juga menegaskan bahwa seorang pemimpin terpilih harus berani memilih issue atau jabatan. Dia bahkan mencontohkan kejatuhan Gus Dur adalah karena keengganannya berkompromi dengan partai politik yang telah memilihnya.

Walaupun demikian Wimar tetap menganggap kejatuhan Gus Dur, merupakan   keberhasilannya mempertahankan ide pluralisme dan juga desentralisasi militer. 

Pada akhir diskusi ini semua sepakat untuk tetap menghembuskan good guy agar  selalu menyegarkan hati partai politik. Penilaian dan peran masyarakat sangat
mempengaruhi keputusan partai dalam menentukan calon resminya. Dengan bantuan media diharapkan angin good guy selalu terdengar.

Dan semua setuju juga bahwa Faisal Basri dan Rano Karno dua calon yang memenuhi kriteria  yang harus dipertimbangkan oleh partai-partai untuk mendapat
tiket menuju kursi DKI 1. 
 

3 Comments

  1. guebukanmonyet said,

    March 18, 2007 at 7:12 pm

    Saya kira banyak pemuda-pemudi Indonesia atau Jakarta yang sudah siap atau mampu menjadi pemimpin DKI Jakarta. Hanya saja sistem politik dan kondisi sosial budaya di dalam negeri masih sangat sulit untuk mengakomodasi pemimpin-pemimpin muda tersebut.

    Saya sendiri punya mimpi untuk jadi Gubernur DKI🙂

    Nice blog,
    guebukanmonyet
    http://www.guebukanmonyet.wordpress.com

  2. Wete said,

    March 23, 2007 at 10:03 am

    Menjadi pemimpin yang penting adalah orangya berkwalitas dan bukan bad guy. kalau muda korup untuk apa juga ….

  3. cupe said,

    May 19, 2008 at 3:38 am

    ide tentng generasi muda yang harusnya jadi pemimpin kan senantiasa menjadi isu hangat di kalangan politisi muda. di satu sisi adalah proporsi akses kepada kaum muda. namun, di sisi lain harus terpahami bahwa kaum muda pun sering terjebak kedalam sistem “usang” yang sebelumnya mereka gugat. lantas apakah kita mampu memproporsionalkan persepsi??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: