Mudik ‘Jalan-Jalan di Kudus’

Waktu libur lebaran di Kudus tahun ini super sempit banget. Sampai ke Kudus Kamis  malam Jum’at dan hari minggu harus dah balik ke Pamulang lagi. Kami berusaha untk benar-benar menikmat perjalanan singkat ini dengan sebaik-baiknya. Rencananya di Kudus akan mengajak kedua keponakan mengunjungi tempat-tempat wisata ziarah di sekitar Kudus.

Mesjid Demak, tempat pertama yang kita kunjungi (mampir sebelum masuk Kudus) Menurut Wikipedia Masjid Agung Demak adalah sebuah mesjid yang tertua di Indonesia. Masjid ini terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Masjid ini dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya para ulama (wali) penyebar agama Islam, disebut juga Walisongo, untuk membahas penyebaran agama Islam di Tanah Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak.

Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat sebuah museum, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.

Mesjid & Menara Kudus menjadi tujuan wisata selanjutnya, masih mengutip dari wikipedia:  Mesjid Menara Kudus (disebut juga sebagai mesjid Al Aqsa dan Mesjid Al Manar) adalah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi atau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu dari Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama dan terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Mesjid ini berbentuk unik, karena memiliki menara yang serupa bangunan candi. Masjid ini adalah perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu. (baca juga tulisan: K u d u s )

Dan tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Makam Sunan Muria. Setelah hampir 11 rutin setiap tahun pulang ke kota Kudus, baru kali ini aku dan anak2 bener2 diajak ke Muria (itu juga setelah maksa, ngak enakkan ada 2 ponakan .. hahaha).


Muria yang merupakan sebuah Gunung Muria adalah sebuah gunung di wilayah utara Jawa Tengah bagian timur, yang termasuk kedalam wilayah Kabupaten Kudus disisi selatan, disisi barat laut berbatasan dengan Kabupaten Jepara, dan di sisi timur berbatasan dengan Kabupaten Pati. Dikawasan ini terdapat tempat yang sangat legendaris peninggalan Wali Songo, yaitu pesanggrahan di kawasan puncak Gunung Muria yang dalam sejarah negeri ini merupakan basis pesanggrahan dimana Kanjeng Sunan Muria menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. (Cerita Detail mengenai Muria ini sudah aku ceritakan di tulisan ’K U D U S’.)

Perjalanan yang mendaki dan berkelok diisi dengan tawa riang anak-anak. Kira-kira satu jam perjalanan dari kota Kudus ke parkiran mobil di Colo, kami parkir di sebuah mesjid yang bagus entah mesjid apa namanya. Dari sana ada 2 pilihan menuju puncak Muria berjalan kaki dengan menaiki 700 undakan atau naik ojek seharga Rp. 7000 saja. Otomatis anak2 langsung memilih ojek.

(Pesannya Wina, adikku yg dah pernah kesana mending naik ojeknya semotor berdua aja, emang mau pegangan ma tukang ojegnya … katanya. Bener juga si … hehe). Jadi pembagian ojeknya adalah : Ojek 1 : Aku & si sulung Haekal, Ojek 2:  Teh yasmin &  Ka Iyang, Ojek 3: Balya & Masku. Ojek 1 yang aku tumpangi ngebut dan beradu balap dengan ojek 2 … uuh girang banget tuh si Kaka.

Sesampai di puncak kami menuju pasarean Sunan Muria untuk berziarah dan membaca tahlil dan yasin untuk beliau. Kami masih mencari tahu jalan menuju air sumur 7 rasa yang berada lebih tinggi lagi dari tempat itu, tapi karena waktu yang tidak memungkinkan. Petualangan kami hanya sampai di Pasarean Sunan Muria saja.

Besoknya (minggu) pagi kita harus bersiap kembali ke Bandung untuk mengantarkan Iyang pulang dan kembali ke Jakarta untuk bersiap memulai aktivitas kembali.

Liburan kami tahun ini tidak menemukan kuliner baru, maklum ada keponakan yang belum mengenal Kudus, jadi kami kenalkan dulu makanan yang memang sudah kami kenal yang sesuai dengan selera 2 ponakanku yang emang sunda banget. Makanan yang cocok hanya Soto Kudus … Hihihi jadi menu makan tahun ini Soto Kudus.

1 Comment

  1. yasmine said,

    December 31, 2008 at 2:17 pm

    hehehehe…………iy donk kt ngebut2an abs tkt di selip sama ibu HAEKAL (hahahahahaha)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: