Suatu Kamis di Jalan Tarogong

Jam menunjukkan pukul 4 tepat, saat aku bergegas membereskan meja, mematikan computer untuk langsung ngacir pulang. Niatku hari itu mampir ke sebuah klinik kecantikan (de green) di point square lebak bulus. Biasanya kalau mau ke de green aku selalu bareng Rn & Dn dengan mobilnya dn (hehe), hari itu ke2 temanku nga bisa gabung, akhirnya nekatlah jalan sendiri, walau harus naik angkot.

Seperti biasa jam segitu jalanan sudah mulai pamer alias padat merayat, belum kutentukan hendak naik apa kesana? 15 menit sudah aku menunggu, saat sebuah metromini 79 jurusan lebak bulus melewatiku, tanpa ragu aku naik dan langsung duduk manis sambil baca sebuah majalah. Pengamen datang silih berganti menemani perjalananku. Aku asyik dengan bacaanku sambil sesekali melihat pengamen atau memberikan recehan 500 or 1000 untuk mereka.

Rute yang aku lalui adalah jalan Fatmawati, lalu masuk ke Jl. Tarogong, Pondok Indah dan terakhir lebak bulus. Lampu merah D’best Fatmawati dilalui dengan susah payah, belok tarogong ternyata masih tetap sama saja muaceeeet banget. Sementara penumpang semakin lama semakin banyak. Supir metromini yang sejak awal ngomel lebih sibuk lagi mengomel kepada kondekturnya agar memaksa penumpang yang berdiri untuk lebih berhimpitan lagi. Maklum jam sudah menunjukan jam 5 sore, waktu ideal untuk pulang agar tidak terlalu terlambat buka puasa di rumah, sehingga si supir tidak mau kehilangan kesempatan mendapat banyak setoran dengan terus menaikan penumpang.

Tarogong benar-benar berayap, jalan yang tidak terlalu besar dengan volume kendaraan yang tinggi sepertinya sudah tidak cukup lagi. Jalanan mulai lancar setelah melewati hotel Crystal, dan mulailah si supir yang tukang ngomel itu memacu gasnya dan berjalan ugal-ugalan. Penumpang sudah benar-benar padat banyak yang bergelantungan di pintu, termasuk sang kondektur. Tepat di depan Jakarta International School (JIS), tiba-tiba terdengar suara benturan dan teriakan penumpang ‘ Ya Allah …. Itu kondekturnya jatuh’. Semua penumpang melihat kearah belakang, dan mulailah para saksi mata bercerita, bahwa si kondektur bergelantung dengan posisi menghadap belakang, tanpa dia sadar bahwa di samping kiri berdiri tiang listrik tanpa bisa menghindar kepala si kondetur terbentur tiang listrik tersebut. Cerita dilanjutkan dengan cerita horror lainnya. … Inna lillahi …. mengerikan sekali, bisa dibayangkan metromini dalam kondisi ngebut kemudian sebuah kepala membentur tiang listrik … Masya Allah bagaimana nasib si kondektur ? Wallahu a’lam jika dilihat secara kasat mata, sepertinya tidak ada harapan untuk hidup, dia langsung terkapar dan muntah darah.

Kasian kondektur itu, dibentak2 si supir di marahi penumpang yang tidak mau bergeser, membantu melancarkan kemacetan di perempatan dsb, dsb. si supir sendiri entahlah bertanggungjawab atau tidak, menolong atau tidak, tidak seorangpun dari penumpang yang masih bergerombol itu tahu. Yang kami tahu sebuah mobil Nissan membantu membawa korban.

Astagfirullahaladhim …. Tiada daya dan upaya tanpa kuasaMu Ya Robb. Hanya itu yang dapat aku lontarkan, dengan lutut lemas kulanjutkan perjalananku.

Helmi & Me

Wildan, Wati, Wiwi, Widya, Helmi (Wina belum nongol waktu itu)’ semuanya berawalan W, kalau gitu ganti aja nama Helmi jadi ‘Wek .. wek … wek‘ itulah guyonan yang sering dilontarkan teman-teman kakakku kalau mereka lagi kumpul di rumahku.

Helmi seperti kang Wildan dia juga rada jahil dan nakal. Di sekolah dasar kerjaannya ngobrak ngabrik mainan anak perempuan, sedang di rumah nangisin Wina. Di rumah yang tinggal Helmi & Wina, aku sudah masuk pesantren dan ke 3 kakakku kuliah di Bandung.  Saat aku liburan di rumah, akupun selalu kena jahilnya, tahu2 semua bajuku dikeluarin dari lemarilah .. atau apalah pokokknya selalu saja ada ulah yang bikin aku harus ngejar2 dia.

Paling sering berantem Helmi dan Wina, pasalnya pasti berebut channel TV (padahal waktu itu baru ada 2 station TV kalau nga salah).  Suatu hari ketika kami udah rada gede, Wina lagi asyik nonton, Helmi baru bangun dan langsung menguasai remotnya.  Sambil cengar cengir ngeledek Wina dia pindahin tuh channel TV dari yang satu ke lain pindah lagi, pokoknya tuh anak nyebelin banget. Sampai Wina teriak: ‘Teh Dia tuh si kang Helmi pisebelin pisan‘ Si bohel (panggilan kecil Helmi) tambah seneng lihat Wina jerit. Aku yang dari tadi duduk dan diam aja bilangin Helmi sambil nyentil ‘Hel, entong ngaganggu Wina wae atuh gandeng, eta channel TV cing atuh tong dipindah pindah wae‘. Helmi diem sebentar eeeh tahu2 dia ngomel sambil tolak pinggang, kaki sebelah naik ke kursi dia teriak : ‘Dicabok sia ku aing‘ aku yang udah mulai kesel juga jawab ‘Sok cabok lamun wani mah … ‘ . Trus dia bilang, ‘lamun aing ambek ieu imah ancur ku aing’ (kalau saya marah ni rumah hancur). Begitu denger itu aku & Wina bukannya takut tapi jadi ngakak, kami ngeloyor ninggalin Helmi ke dapur sambil bergumam, ‘mukul meja aja sakit apalagi tembok, emangnya rumah dari krupuk … hihihihihi dasar Helmi yang sok jagoan.

Trus satu lagi kesukaan Bohel, nongkrong di depan jalan sambil ngitung jumlah bis yang lewat. Pulang sore dalam keadaan dekil. Ada lagi, temannya nongkrongnya (Otom) yang sama2 kelas 2 SD dah bisa nyanyi lagu Ebony Ivory-nya Paul mc Cartney yang dinyanyiin Stevie Wonder. Uuuuh dia ngiri setengah mati dan minta ditulisin lyricsnya ma teh Ati.  Sampai sekarang itulah lagu kenangan dia, lagu berbahasa Inggris pertama yang dia bisa

Ebony Ivory (By paul mc cartney)

Ebony and ivory live together in perfect harmony
Side by side on my piano, keyboard,  oh lord, why dont we?

We all know that people are the same where ever we go
There is good and bad in evryone,
We learn to live, we learn to give
Each other what we need to survive together alive.

Ebony and ivory live together in perfect harmony
Side by side on my piano keyboard, oh lord why dont we?

Ebony, ivory living in perfect harmony
Ebony, ivory, ooh

We all know that people are the same where ever we go
There is good and bad in evryone,
We learn to live, we learn to give
Each other what we need to survive together alive.

Ebony and ivory live together in perfect harmony
Side by side on my piano keyboard, oh lord why dont we?

Ebony, ivory living in perfect harmony (repeat and fade)

Teh Ati, Teh Wi, Wina &Me

Namaku Widya Tresna Utami, Kakaku yang kedua Tresnawati (panggilannya Teh Ati) dan yang ke 3 Tresna Dewi (Teh Wi) Adikku Wina Tresna Rahayu.  Temanku di FB kasih komen di salah satu foto keluargaku ‘wt, serius nih namanya pake tresna kabeh?‘ aku jawab ‘Serius atuh mbak piraku bohong, emang ada 4 tresna di keluargaku‘.

Yang asli panggilannya tresna ya si teteh, secara dia pemegang lisensi pertama, walaupun ada juga sih yang manggil dia wati (biar berawalan ‘W’ semua kali). Teh Wi yang kena sialnya,  namanya Tresnadewi, tapi karena panggilannya Wiwi akhirnya di ijazah tercantum ‘Wiwi Tresna Dewi’ apaboleh baud deh aktenya di ganti jadi Wiwi Tresna Dewi juga (kata bapakku ganti akte lbh gampang daripada ganti nama di ijazah). Kalau namaku sama wina sih asli (maklum produk udah 70-an udah modern dikit lha..).

Teh Ati orang yang tegas, sedikit galak and judes. Pernah masku (sebelum kami menikah), bertemu teteh di kawinan kang Wildan, dan bagaimana dia ? idiiih ampyun  deh, diem & cuek aja. Tapi ketika masku sudah resmi menjadi suamiku, uuuh si teteh bageur pisan sampai suamiku bilang ‘Teteh tuh ternyata baik banget ya, dulu judes banget lho‘ ya begitulah antiknya dia.

Teh Wi lain lagi, dia emang lebih ramah dan santai, dulu sedikit sensi sekarang lebih cueklah.  Saat dia pertama kenal internet,  mengerti fb daku harus siap terima telpon dan sms dari tetehku yang satu ini, untuk tahu cara buka alamat,  menjawab atau mengisi & menjawab komen2 dari teman-temannya yang kebanyakan dihiasi dengan tembang-tembang sunda. Baru-baru ini kita ngenet berjamaah di rumahku, uiiih aku & sepupuku disandera untuk nemenin dia ngebales tembang2 sundanya.  Atuh kita semua jadi melek bersama nemenin dia … teh wi2 … aya2 wae yah

Wina Tresna Rahayu yang ini adikku terkecil alias bungsu, usulan nama Wina datang dariku. Maklum anak kecil yang baru ngapal nama2 ibu kota negera ketika denger kata ‘Wina’ langsung aku bilang bapakku. ‘Pak,  adik kecilnya kasih nama Wina aja, kan awalannya ‘W’ juga’ terciptalah nama Wina Tresna Rahayu. Adik kecilku sekarang sudah punya anak kecil juga. Agustus 2007 Orang tuaku melepaskan anak bungsunya.

Wina itu sangat dekat denganku (secara kata orang dia mirip denganku). Setelah lulus kuliah dia bekerja sebagai wartawan di sebuah media ibukota,  bapak ibu menyarankan dia tinggal sama kakak pertamaku (pepatah orang tua,  adik perempuan sebaiknya tinggal di rumah kakak laki2). Ngak sampe satu bulan  setelah pindahan dia datang ke rumahku, awalnya ngobrol2 biasa aja, tapi lama2 dia nangis katanya dia mau tinggal di Pamulang aja (rumahku). Akhirnya tinggallah dia di rumahku. Yang lucu,  suaminya orang Kudus hihihihi kalau aku godain ‘Win, idola banget sih ma Teh Dia, sampai suami aja nyaingin orang Kudus juga’ dia pasti ngomel: ‘uuuuh sebel‘  kataya.

Widya Tresna Utami, kata orang ketika aku lahir, bapakku sedang menempuh pedidikan S1-nya. Dengan susah payah tentunya, maklum dengan 3 anak dan pekerjaan yang numpuk. Trus kata orang lagi ni, aku tuh emang paling cengeng diantara saudara2ku. Bahkan ketika Wina kecil (kira2 2 thn) yang sering kedengaran tetangga nangis justru aku yg saat itu sudah kelas 3 SD. Pernah ketika kami baru pertama pindah rumah (awalnya kami tinggal di Jl. A yani kemudian pindah ke Jl. Siliwangi), dan bersilaturahmi ke tetangga2, tetangga sebelahku (almarhumah ibu Parta) tanya ‘Anu sok nangis wae teh anu mana ?’ (yg suka nangis terus yang mana) semuanya ketawa dan nunjuk aku. Uiiih malu banget, dan rasanya semenjak saat itu frekwensi nangisku berkurang sampai akhirnya hilang sama sekali.

Saking terkenalnya, ketika aku nikah bibi2ku (adik ibu) ngeledek suamiku ‘Aduh Malhan ati-ati nikahin anak kecil’ (nga tahu mereka, ponakan kecilnya dah bisa bikin akan kecil juga hihihihi ….)

Kang Wildan & Me

O : ’Widya .. Kakangnya lebetkeun (masukan) kana selang’
A : Entong (Jangan) …. huhuhuhu ….

Sampai sekarang setiap kali aku pulang ke sukabumi dan mampir ke rumahku yang dulu, tetangga-tetangga yang sekarang sudah pada bercucu selalu mengingatkan ledekan itu padaku. Aku ketawa ingat itu, kenapa aku selalu nangis kalau diledek itu. Kadang buat aku malu juga kalau ada yg bilang ’Aduh Widya udah gede, yang dulu suka nangis melulu’

Katanya orang-orang, waktu kecil aku ini cengeng dan judes banget. Jadi teman-teman kakakku senang bikin aku nangis, dan salah satu yang paling cepet membuatku nangis dengan meledek kaka pertamaku (kang Wildan). (Suamiku ngakak deh kalau ada yang ingatkan ’Widya = cengeng’)

Kang Wildan adalah kakak pertamaku nama lengkapnya Wildan Ginanjar, dan karena dia anak tertua, kami sekeluarga dan saudara-saudara lainnya memanggil dia dengan sebutan Kakang. Kang Wildan itu  sangat supel, temenya banyak, hobbinya emang mengumpulin teman-teman dan herannya temennya aja dikerjain dia atau atau dijhailin.

Teman2 sekolahnya SMA (yang aku ingat) sepulang sekolah selalu menjadikan rumahku tempat nongkrong, baik nonkrong buat belajar ataupun sekedar ngobrol2 aja. Ada yang namanya Kang Deni, kang Untung, Kang Dadang , Kang Iyus dsb deh.

Selain temannya banyak, pacarnya juga banyak yang paling kuingat Heda dan Lela cinta monyetnya ketika kang Wildan duduk di kelas 1 SMA.

Hubunganku dengan Kang Wildan begitu dekat, usia yang terpaut jauh justru membuat dia benar-benar memiliki adik kecil, secara dia tuh seneng banget dengan yang namanya anak kecil. Jadi ngak heran sejak kecil aku selalu di gendongnya saat dia main dengan teman-temannya. Dan menurut cerita ibuku, dia senang banget ngedandanin Widya kecil … hehehe.

Ketika aku masuk TK kang Wildan sudah masuk SMA. Pulang sekolah aku selalu menunggu dia pulang, bahkan nga jarang aku ikut jemput dia ke sekolahnya dengan mobil inventaris bapakku VW Safari biru.

Alhamdulillah sampai sekarang masing-masing sudah berkeluarga hubungan kami tetap terjaga dengan baik dan karena kang wildan termasuk dalam golongan telat nikah, sekarang ini ke2 anaknya (Yasmine & Arsy) seusia dengan anak-anakku.

SUNDAY …

Sunday, Ahad atau hari minggu kayanya adalah hari yang paling ditunggu oleh kabanyakan anak sekolah (dulu kali) secara dulu kan libur sekolah minggu doang … :) (siapa bilang dulu, sekarang juga masih lagi byk yg libur minggu doang). Okelah ngak usah bahas itu, yang penting hari minggu itu buat aku enaknya Cuma pagi sampe siang aja, kalau dah magrib  … uuuuh jangan dikata deh ribetnnya.  Kenapa begitu ?? karena malam senin tuh dah ribut nyiapin seragam anak, mikirin bekel sekolah, aaah belum lagi kalau anak2 lupa ngerjain PR karena kebanyakan main PS, pokonya  rii beeet …

Peraturan dibanyak keluarga, hari minggu adalah hari bebas bermain untuk anak-anak, biasanya PS hari itu jadi idola, favorit  anak-anak deh (nyebelin ….). Kalau dah keranjingan PS tuh kuping anak-anak pasti dihinggapi setan budeg. Apalagi kalo disuruh sholat … aaah setan yang nempel tambah banyak banget aja … :) .

Itulah yang terjadi sama si sulung Haekal, mulai malam minggu dia dah bersiap di depan komputer main game tanpa kenal capek, laper, gak inget sholat, ngaji, pelajaran. pokoknya semua yang berbau belajar .. kayanya no way deh buat dia. Kecuali kalau ada turnamen, baru deh dia bisa dilepaskan dari ’games’   hari minggu.

Alhamdulillah akhir2 ini dia agak kapok main PS or game sampe malem.  Ceritanya dia kelupaan ngerjain PR, jadi dia beberapa  PR yang harus dikumpulkan senin, yg lain dah dikerjain tinggal 1 yaitu Basa Sunda, parahnya ingetnya dah pagi, sementara aku pakar basa sunda (di rumah) harus berangkat pagi2. Jadinya sambil ngintilin aku yg lagi dandan dia melas .. ’bu ini gimana dong?’ Aku pura-pura cuek, sampai akhirnya mewek. Dan aku kasian juga ngeliatnya … untung Prnya mengarang cerita mengenai “17 Agustus” jadi aku bisa ngoceh sambil dandan  & nga ketinggalan sesekali ngomel .. :) )

Itu cerita anak SD yang belum kenal pacaran dsb. Kalau ABG lain lagi, keponakanku (SMP kelas 2) lagi keranjingan penyanyi Afgan. Jadi tuh sabtu minggu selalu diisi dengan kegiatan dari Afganisme (fan club-nya Afgan). Afgan melulu rumpiannya sama temen-temennya …. Capek deeeh … 

Jadi untuk mengsiasati kebetean karena ribet malam senin, minggu pagi sebelum memulai rencana jalan2 yang pertama dilihat adalah :
1.    Seragam anak2 buat senin plus dasi & topinya
2.    Sepatu sekolah dah bersih belum (biasanya kelupaan nyuci)
3.    Buku pelajaran plus Prnya  dikerjain dulu hari sabtu

Kalau dah disiasati gitu, malam tinggal mikirin ’besok ke kantor pake baju apa ya?’ soalnya senin ni … salah warna mempengaruhi mood lhooo … :)

SATURDAY ..

Saturday kalau kata orang sunda mah Saptu, merupakan hari yang membahagiakan buatku (mungkin buat pekerja lainnya juga). Hari dimana tidak ada beban dengan masalah kerjaan, atau tidak harus sebel menghadapi macet dan enaknya, kalau hari itu penuh kegiatan, besoknya minggu masih bisa tidur pulas.

Biasanya rencana hari sabtu sudah tersusun rapi sejak jum’at siang. Jika tidak ada rencana ke luar rumah,  bangun pagi seperti biasa (menjelang adzan subuh), sholat subuh kemudian membuka lemari pakaian dan memandangnya. Aku paling senang membereskan lemari pakaian … setiap hari sabtu kukeluarkan isinya dan kuputar posisinya, baju yang baru masuk lemari (yang baru dipakai) dipindah ke bawah dan yang dari bawah dimasukan dibagian atas. Tujuannya tentu untuk me-rolling baju-baju itu agar tidak hanya yang itu2 saja yang dipakai. Kususun baju-baju itu dan meluruskan lipatannya sehingga menjadi lipatan yang sama. Jika sudah selesai aku pandangin hasilnya sambil senyum puas … hehehe. Setelah itu beralih ke lemari baju suamiku, kembali kuulangi ritual itu.

Tapi ritual membereskan lemari pakaian sekarang tidak lagi dilakukan  di pagi hari, ada protes dari kelapa keluarga  katanya : ’iiih pagi-pagi baju melulu diurus’. Ya, kalau dah keluar ‘SP’ gitu ngak berani lagi deh. Jadi sekarang waktunya pindah di siang hari saat si bapak main tennis sama si sulung Haekal.

Dasar aku lebih hobby beres-beres daripada masak memasak, jadi kalau tidak beresin lemari pakaian, kegiatan  pagi adalah merubah posisi perabot rumah (hihihi kaya banyak aja ya), terus nyapuin ampe bersih .. nah yang bagian ngepelnya ya mbak-nya.

Selesai nyapu, bersiap nganterin si bungsu sekolah dan langsung ke tempat senam di belakang komplek. Pulang senam rumah dah dipel bersih, makanan dah siap … uuh asyiiik rasanya.

Setelah makan siang biasanya masku & si sulung Haekal main tennis di komplek sebelah (Villa Pamulang Mas). Nah aku mulai buka2 laci penyimpanan sprei, handuk dan mukena dan mulailah menyusun isi laci2 itu biar mudah diambil dan enak dilihat.

Jika kebetulan hari sabtu di Sukabumi, kegiatan pertama sesampai di rumah (biasanya sampe jam 00.30) pasti langsung rumpi sama ibuku tersayang ngak tanggung2 sampe subuh kita ngobrol dan dilanjutkan lagi sambil masak. Seperti sabtu  menjelang Idul Adha sabtu lalu (6/11), aku ngobrol sama ibu membahas kecenderungan para suami/istri mengalami kejenuhan dalam menghadapi rutinitas sehari2 atau kejenuhan dlm hubungan suami istri.

Seru ceritanya, ibuku bilang bahwa bapakku pernah bercerita ‘Kecenderungan untuk mendua itu ada dalam diri laki-laki (kebanyakan lelaki), hanya saja ada yang berani melakukan dengan terang-terangan, ada yang menyembunyikan ada yang bisa menahan’

Ada lagi yang membuat aku terkikik dan kayanya para perempuan ngak pernah berpikir sampai disitu :)   ‘ Dalam sebuah buku (maaf lupa nama bukunya) si pengarang yang notabene seorang laki2 dalam pengantarnya mengatakan ‘Wahai istriku dan anak-anak perempuanku, ketahuilah bahwa jika seorang laki-laki menatap dia tidak hanya melihat wajahmu akan tetapi membayangkan apa diluar itu’

Itulah topic obrolan aku dan my mom sabtu lalu.
Hayo para lelaki bener kah begitu  .. ???

FRIDAY

Friday alias Jum’at .. seneng banget kalau menghadapi jum’at. Alasan pertama karena pakaian kantor bisa seenaknya (hehe padahal tiap hari jga amuradul), kedua istirahatnya bisa agak lama bersamaan dengan para cowok2 jum’atan (padahal lagi ni, tiap hari istirahatnya nambah jam melulu). Trus yang paling kebayang-bayang adalah besoknya itu lho …. Libur 2 sabtu-minggu alias weekend.

Mungkin karena weekend itulah, biasanya jam pulang kerja lebih padat dari hari biasanya, rada nyebelin emang tapi berhubung besoknya libur jadi dibikin asyik aja ngak pake ngutruk bin ngomel.

Hari jum’at juga selalu berbeda dengan hari lainnya (menurut daku … ). Setelah memperhatikan sekian lama, cuaca hari jum’at seringkali berbeda dengan hari lainnya diminggu itu, Kalau senin-kamis hujan, maka jum’at akan menjadi hari panas. Begitupun sebaliknya kalau senin-kamis panas, maka jum’at akan menjadi hari hujan minimal mendung dan sejuk deh. ( inget seringnya ya ... :) )

Weekend akhir bulan November lalu Jakarta Selatan diguyur hujan gede. di daerah sekitar kantorku (sekitar Jl. Fatmawati) Aura akan turun hujan gede sudah terasa sejak siang, awan hitam sudah ada sejak jam makan siang. Semakin lama langit semakin menghitam dan akhirnya turun hujan pada jam 16.00.

Kalau hujan besar jam 16.00 artinya depan ITC akan banjir dan otomatis jalanan semakin macet karena genangan air dimana2 … (hiks .. itulah kondisi Jakarta). Nyaris semua orang di kantorku (kaya banyak aja jumlahnya .. hehe) saling berpandangan dan bergumam ’Ya hujan ….’

Untungnya jam 17.00 (jam pulang) hujan sudah reda dan teman-teman segera bersiap pulang. Dalam waktu 15 menit kantor dan sepi. Aku terakhir turun dari lt 3. di bawah ketemu Pak Sunar alias pawang & kuncen & jagoannya kantor. Negnong … ’asyik pak Sunar masih ada berarti bisa nebeng naik motor ampe Rumah sakit Fatmawati’ pikirku.

Jadilah aku nebeng pak Sunar keluar komplek Dutamas lancar, depan P & K mulai merayap dan D’best mulai mandeg, akhirnya di depan RS. Setia Mitra berhenti deh.

Motor pak Sunar terus nerobos sela2 mobil dan off road di trotoar yang terjal dan sesekali harus menundukan badan dan kepala karena melintasi pepohonan .. Aaah pokoknya mah seru deh … :) . Betapa senangnya kalau jam pulang dan pak Sunar masih ada …. Nuhun ya pak tumpangannya.

Sesampai di Ujung Jl. Fatmawati tempat aku harus berganti naik angkot, kulihat jalanan sangat kotor bekas batang pohon serta kanan kiri jalan penuh dengan potogan pohon jalanan. Tanya kanan kiri ternyata di sekitar Fatmawati ada angin puting beliung yang menumbangkan pepohonan dan juga meruntuhkan sebuah baliho.

Bagaimana dengan jum’at awal Desember ini ? Jakarta mendung tapi belum terlihat tanda-tanda hujan. Semoga cuaca Jakarta di bulan Desember ini baik2 aja … Amiiien.

Menang di Dua Persami

*Persami = Pertandingan sabtu minggu

Hampir sebulan penuh (selama bulan Ramadhan) si kaka Haekal tidak pernah sama sekali mengayun raket. Jangankan latihan di lapangan, sekedar shadow pukulan ada dia males banget, selama puasa kerjaannya cuma main PS dan PS aja. Melihat kondisi begitu aku dan suamiku merasa khawatir juga kalo-kalo dia lupa pukulannya, tapi kamipun tak bisa juga memaksakan dia.

Alhamdulillah ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti. Hari Pertama latihan setelah liburan panjang, dia bermain cukup bagus, Backhand yang menjadi kebanggaan dia masih stabil … . Pokoknya menurut para pelatihnya masih lumayan deh.

Setalah liburan ini, Haekal hanya punya waktu seminggu untuk bersiap mengikuti Persami yang diadakan Ferry Raturandang di lapangan Tenis Senayan (Gravel). Uuuups … Haekal belum pernah sama sekali main di lapangan dengan tipe itu.

Sedikit yang aku tahu mengenai lapangan gravel ini, pantulan bolanya lebih lambat sehingga otomatis pukulan harus lebih keras. Tapi rasanya InsyaAllah Haekal bisa mengatasinya … Amien.

Ternyata benar dugaanku, alhamdulillah Haekal bisa mengatasi lawan-lawannya. Di final dia bertemu dengan   dari Bandung. Haekal menang  dengan skor 4-0 & 5 -3. Dam hasilnya : Haekal Juara ….

Seminggu kemudian, kami ikutkan dia pada Persami yang diadakan club kemayoran Jakarta. Haekal beberapa kali membuat jantung suamiku berhenti berdetak, karena beberapa kali dia ketinggalan dari lawan-lawannya. Syukur dia bisa merebut gelar juara pada Persami KTC (Kemayoran Tennis Club). Di Final dia melawan Ernest dengan skor 6-3

Selamat ya jagoanku.  Pesan ibu, berlatih dengan baik dengarkan apa kata pelatihmu, selalu rendah hati  dan jangan lupa sholatnya ya ….

Mudik ‘Jalan-Jalan di Kudus’

Waktu libur lebaran di Kudus tahun ini super sempit banget. Sampai ke Kudus Kamis  malam Jum’at dan hari minggu harus dah balik ke Pamulang lagi. Kami berusaha untk benar-benar menikmat perjalanan singkat ini dengan sebaik-baiknya. Rencananya di Kudus akan mengajak kedua keponakan mengunjungi tempat-tempat wisata ziarah di sekitar Kudus.

Mesjid Demak, tempat pertama yang kita kunjungi (mampir sebelum masuk Kudus) Menurut Wikipedia Masjid Agung Demak adalah sebuah mesjid yang tertua di Indonesia. Masjid ini terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Masjid ini dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya para ulama (wali) penyebar agama Islam, disebut juga Walisongo, untuk membahas penyebaran agama Islam di Tanah Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak.

Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat sebuah museum, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.

Mesjid & Menara Kudus menjadi tujuan wisata selanjutnya, masih mengutip dari wikipedia:  Mesjid Menara Kudus (disebut juga sebagai mesjid Al Aqsa dan Mesjid Al Manar) adalah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi atau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu dari Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama dan terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Mesjid ini berbentuk unik, karena memiliki menara yang serupa bangunan candi. Masjid ini adalah perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu. (baca juga tulisan: K u d u s )

Dan tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Makam Sunan Muria. Setelah hampir 11 rutin setiap tahun pulang ke kota Kudus, baru kali ini aku dan anak2 bener2 diajak ke Muria (itu juga setelah maksa, ngak enakkan ada 2 ponakan .. hahaha).


Muria yang merupakan sebuah Gunung Muria adalah sebuah gunung di wilayah utara Jawa Tengah bagian timur, yang termasuk kedalam wilayah Kabupaten Kudus disisi selatan, disisi barat laut berbatasan dengan Kabupaten Jepara, dan di sisi timur berbatasan dengan Kabupaten Pati. Dikawasan ini terdapat tempat yang sangat legendaris peninggalan Wali Songo, yaitu pesanggrahan di kawasan puncak Gunung Muria yang dalam sejarah negeri ini merupakan basis pesanggrahan dimana Kanjeng Sunan Muria menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. (Cerita Detail mengenai Muria ini sudah aku ceritakan di tulisan ’K U D U S’.)

Perjalanan yang mendaki dan berkelok diisi dengan tawa riang anak-anak. Kira-kira satu jam perjalanan dari kota Kudus ke parkiran mobil di Colo, kami parkir di sebuah mesjid yang bagus entah mesjid apa namanya. Dari sana ada 2 pilihan menuju puncak Muria berjalan kaki dengan menaiki 700 undakan atau naik ojek seharga Rp. 7000 saja. Otomatis anak2 langsung memilih ojek.

(Pesannya Wina, adikku yg dah pernah kesana mending naik ojeknya semotor berdua aja, emang mau pegangan ma tukang ojegnya … katanya. Bener juga si … hehe). Jadi pembagian ojeknya adalah : Ojek 1 : Aku & si sulung Haekal, Ojek 2:  Teh yasmin &  Ka Iyang, Ojek 3: Balya & Masku. Ojek 1 yang aku tumpangi ngebut dan beradu balap dengan ojek 2 … uuh girang banget tuh si Kaka.

Sesampai di puncak kami menuju pasarean Sunan Muria untuk berziarah dan membaca tahlil dan yasin untuk beliau. Kami masih mencari tahu jalan menuju air sumur 7 rasa yang berada lebih tinggi lagi dari tempat itu, tapi karena waktu yang tidak memungkinkan. Petualangan kami hanya sampai di Pasarean Sunan Muria saja.

Besoknya (minggu) pagi kita harus bersiap kembali ke Bandung untuk mengantarkan Iyang pulang dan kembali ke Jakarta untuk bersiap memulai aktivitas kembali.

Liburan kami tahun ini tidak menemukan kuliner baru, maklum ada keponakan yang belum mengenal Kudus, jadi kami kenalkan dulu makanan yang memang sudah kami kenal yang sesuai dengan selera 2 ponakanku yang emang sunda banget. Makanan yang cocok hanya Soto Kudus … Hihihi jadi menu makan tahun ini Soto Kudus.

Mudik & Ketinggalan Oleh2

Di tengah sibuk silaturahmi deeleel … Aku bersiap melanjutkan perjalanan ke Kudus. Jam menunjukan pukul 20.00 ketika kami bersiap terbang dengan  APV K 9194 BB menuju Kudus dan transit di Bandung. Eeh rupanya 2 keponakanku Iyang (anak teh Wi) dan Teh Yasmin (anak kang Wildan) mau nyoba mudik juga. Jadilah rombangan kami menjadi 6 orang (2 dewasa, 1 ABG dan 3 anak-anak).

Setelah bersalaman dan dadah2han sama keluarga di Sukabumi, kami ber6 berangkat. Selama perjalanan menuju Bandung diisi dengan canda dan tawa ceria (maklum tuh para keponakan lepas dari pengawasan ortunya hehehe). Eiit tiba-tiba kring …. Bunyi handphoneku berbunyi di layar tertulis ibu ….

Ibu :  Wid,  … ieu Oleh-oleh kanggo ke Kudus ketinggaleun (ini oleh2 buat ke kudus ketinggalan)
Aku : Astagfirullah ….. aduh iya bu hilap (lupa)
Ibu : Ayeuna dimana ?  (sekarang dimana ?)
Aku : Aduh dimana ya … sekitar Cirumput (untung belum terlalu jauh)
Ibu : ya udah disitu tunggu di pom bensin sekitar situ deh ..

Wuhahahaha … kita semua ketawa .. lagian sih bercanda terus, jadi aja  oleh-oleh yang dah disiapin jauh2 hari malah ketinggalan .. ’widya2 … dasar si riweeuh  (si repot)’ kata Kakak dan adekku yang nyusulin.

Kami melewati semalam di Bandung (Ngak sempet karaokean deh …:)). Besoknya jam 5.30 kami sudah melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah sumber macet Cileunyi – Jatinangor – Cadar Pangeran lancar.

Beberapa kali kami berhenti di SPBU untuk mengisi bahan bakar atau sekedar numpang ke toilet. Sampai di SPBU peraih Muri (toilet tebanyak) kami @ Tegal jam 11.30, kami istrirahat, sholat dan makan siang di situ. Tepat jam 17.30 kami memasuki halaman rumah di Kudus. Alhamdulillah …

(bersambung … Jalan-Jalan di Kudus)

« Older entries